Monday, June 8, 2009

Soliluqui: Freethinker minus Cogito

Berpikir bebas, bertumpu pada rasio. Hemat saya, tumpuan ini merupakan suatu "konstruksi" yang menggantikan mistisme di alam nusantara.

Makna freethinker menunjuk pada kekuatan subjek, yang sejauh didebatkan, telah mensubordinasikan gagasan pada ontologi, yang akhirnya bergelut pada ukuran moralitas tertentu.

Situasi gagasan politik Indonesia hari ini, hemat saya, mulai menunjuk pada kekuatan subjek, dan berpotensi untuk mengalahkan gagasan yang bebas.

Sebagai catatan pembuka, gagasan politik yang common sense di berbagai media, dapat dikuliti kembali, karena hanya menguntungkan otoritas tertentu pada subjek.

Gagasan yang bebas bukanlah domain filsafat, tapi pra-filsafat.
Filsafat bertugas mencipta konsep, karena pembuat konsep bukanlah filsuf. Sains (politik) memfungsikan konsep hasil ciptaan filsafat --sekalipun nanti terjatuh pada konsepsi.

Freethinkers hanyalah pengantar masa Pencerahan untuk kemudian lenyap, --- usai "thinking" itu bergerak terus tanpa terganjal oleh pemikiran yang tidak berpikir (unthinking thought).

***Anom S Putra

No comments:

Post a Comment

Comment with CyberEthic