Monday, June 8, 2009

Yunani Kuno: Cermin Gratisan "Filsafat Hukum"

Yunani Kuno memang menjadi cermin-gratisan bagi "filsafat hukum". Keadilan menjadi objek pengetahuan filsafat hukum, yang peletakannya sebatas pada "polis" atau negara kota.

Keterbatasan keadilan distributif maupun keadilan komutatif dari Yunani Kuno, berkembang jauh (maaf, saya agak lompat) ke zona Immanuel Kant, dimana keadilan menjadi proyek akal-budi atau rasio. Tak pelak, pengertian hukum tersubordinasi pada moralitas yang menjadi wilayah filsafat moral atau Etika.

Sedangkan disisi lain, fakta (termasuk didalamnya adalah praktek hukum), berada di zona positivisme August Comte. Agama menjadi sub-ordinasi dari pemikiran sosiologi, jurisprudenz dan seterusnya.

Kontradiksi antara keadilan vs praktek hukum menjadi laten, dan bahkan cenderung menjadi epiphenomena yang laten. Gejala pinggiran yang tak berujung pasti. Implikasinya, dunia akademis dan sosialita, canggung dalam memaknai "apakah ini tindakan stratejik (advokat)", atau "tindakan komunikatif"?

Habermas, hampir 10 tahun terakhir, telah memupus kontradiksi itu.
Hanya saja, filsafat hukum di Indonesia menjadi unthinking thought. Pemikiran yang berhenti berpikir, dan bergolak di kawasan internal saja.

Kembali pada "filsafat" yang dimaksudkan Deleuze-guattari: filsafat menghasilkan konsep, bukan sebaliknya, bahwa filsuf-lah yang menciptakan konsep.

***Anom S. Putra

No comments:

Post a Comment

Comment with CyberEthic