Wednesday, December 25, 2013

Ngalap Berkah dalam Suguhan Kontradiksi di Monas



Anom Surya Putra, pengagum pusaka


“Padat.” Perjuangan tersendiri bagi pengunjung untuk mendapatkan ruang parkir ketika berlangsung Pagelaran Agung Kraton se-Dunia di Monas (5-8/12/13). Salah satu daya magnet bagi pengunjung adalah kereta kraton dan pusaka tosan aji. Kerumunan yang menyemut dan sliwar-sliwer sejak ruang parkir hingga berbagai lokasi tenda menandai perhelatan budaya. 

Sejak ditayangkan baliho promosi acara di bilangan Mampang, Jakarta, maupun berita online di berbagai media, masyarakat tergoda untuk berfoto bersama dengan kereta kraton. Kereta kraton yang sebelumnya disakralkan oleh tembok kraton benar-benar menghibur mereka meski sebatas foto bersama tanpa kesempatan untuk menghela bersama kuda.

Perasaan terhibur ini membawa beban patologis yang sangat berat dalam semesta kenusantaraan. Raja merupakan simbol kekuasaan di masa lalu yang adimanusia dan saat ini mereka menjalankan kehidupan demokratis secara temporer. Ketika penulis berada di tengah kerumunan kirab kereta kraton, seolah merasakan hawa patologis itu. Seorang tua di sebelah penulis meneriakkan “Jokowi, presiden....” sambil mengarahkan wajah anaknya untuk melihat Jokowi dan A Hok diatas kereta kraton. Ngalap berkah ditengah kerumunan kirab. 

Terus terang, merinding rasanya mendengar teriakan harapan dari penonton kepada sosok “raja” Gubernur ini untuk menjadi presiden. Seolah muncul perasaan tak-terjelaskan yakni kemunculan hak alamiah bagi sang “raja presidensial” sebagai pemimpin massa tanpa didefinisikan oleh kemurnian genetik darah biru. Hal ini mengingatkan penulis pada mitologi keris Sengkelat yang sederhana, estetis, berwibawa, dan berbasis nurani massa.

Berbeda rasanya ketika gelak tawa, tepuk tangan, lambaian tangan dan ekspresi tubuh lainnya ditujukan kepada peserta kirab pembawa tombak maupun keluarga kraton di atas kreta kraton. Desakralisasi. Raja-raja atau entah siapa yang diatas kreta kraton itu seolah disapa dengan ekspresi tontonan karnaval. Penghayatan atas tuntunan ke-nusantara-an menjadi hilang bahwa raja memiliki hak alamiah untuk kepemimpinan budaya di negeri ini, bukan semata artefak tontonan yang terabadikan dalam gadjet penonton.

Sosok raja di atas kereta kraton sungguh berupaya tampil berwibawa dalam sifat dasarnya yang tidak destruktif. Namun kontradiksi terjadi ketika tuntunan kewibawaan itu tak-terwadahi dalam jalur tontonan: rute kirab yang simpang siur, jarak dengan kerumunan penonton tidak rapi, efek kemacetan di depan stasiun Gambir hingga tuntutan nurani sebagian penonton agar Jokowi menjadi sosok pemimpin masa depan. Mungkin kontradiksi ini tak terbayangkan pihak penyelenggara karena mereka lebih bersemangat mendekatkan elit kraton kepada kerumunan dimana kerumunan itu mampu mereproduksi diskursus kebudayaan sendiri.

Ditengah-tengah suguhan kereta kraton hadir berbagai pusaka dari koleksi Panji Nusantara. Suguhan yang menarik mulai dari koleksi mas Ganja Wulung berupa karya empu Madura yang menampilkan pamor Ngulit Semangka secara sempurna, hingga keris luar jawa dan keris Kamardhikan Kontemporer karya mpu Toni Junus. Pihak Panji Nusantara secara komunikatif melayani pertanyaan awam dari pengunjung tentang dunia magis maupun kesejarahan pusaka. Saya merasakan rangkaian penjelasan yang ringkas dan sekaligus membalik prasangka-prasangka magis tentang tosan aji.

Keris Pasopati Jokowi


Teringat kala Jokowi memperoleh hadiah dan kepercayaan sekaligus dari empu Jawa Tengah berupa keris dapur Pasopati. Suatu model bilah yang beraura dekat dengan massa dan niscaya membuat sang pemegang melejit bagaikan panah ke angkasa. Perhelatan budaya ini seolah menegaskan derajat kebenaran tuah modern keris Pasopati itu. Tanpa disadari doa sang mpu membawa sang pemegang Pasopati melejit ke angkasa tanpa disadari sepenuhnya.

Andai keris milik Jokowi ini turut dipamerkan, tak pelak acara ini kian menghelat sosok calon raja presidensial ditengah kerumunan. Sosok calon raja, gubernur, dan pencinta budaya yang secara mistis telah disekulerkan melalui komodifikasi acara dan pelibatan diri dalam segara wedang bernama politik demokrasi.***






Sumber Foto: http://kerismataraman.blogspot.com/2013/09/keris-jokowi.html
Deskripsi Keris
- nama /gelar : KK (Kanjeng Kyai) Cahyo Buwono
- dapur           : Pasopati
- pamor          : pedaringan (Pedharingan Kebak), salah satu pamor kerejekian
- ricikan         : Lurus, greneng, sogokan muka belakang,jalen , lambe gajah 

KK Cahyo Buwono, sebuah keris yang di-babar di besalen Suralaya, Kratonan, Surakarta, oleh Mpu Pauzan. Keris ini dihadiahkan untuk Joko Widodo (Gubernur DKI) sebagai hadiah ultah beliau yang ke 52. Keris ini di-babar sebagai pertanda lahirnya seorang tokoh nasional yang berasal dari Surakarta. Keris ini dipesan oleh Paguyuban tosan aji Boworoso Bali Sujadmiko Surakarta.

No comments:

Post a Comment

Comment with CyberEthic